Thursday, 3 March 2022

Jalan-Jalan ke Kawasan Balai Kota Bandung Sambil Menelusuri Jejak Freemasonry

 

Loge St. Jan, sumber gambar: ar.pinterest.com

Sahabat Travelearns, pada akhir pekan biasanya kawasan Balai Kota (Balkot) Bandung ramai dikunjungi oleh masyarakat dari dalam maupun luar kota untuk berwisata. Taman Balkot terletak di Jalan Wastukencana No.2, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Lokasinya tidak jauh kok dari gerbang tol Pasteur, hanya sekitar 5,8 km menuju Taman Balkot, bisa ditempuh selama 17 menit perjalanan menggunakan mobil jika jalan tidak macet. Sejak Desember 2017, Ridwan Kamil –Walikota Bandung saat itu— membuka taman secara resmi menjadi ikon Kota Bandung.

Masyarakat sering mengunjungi taman ini karena banyak pepohonan yang membuat lingkungan asri dan cocok untuk berlibur. Kombinasi bangku taman dengan pepohonan yang hijau dan bunga yang berwarna-warni jadi spot yang keren untuk berfoto. Ada juga labirin yang dihiasi tanaman sehingga kamu bisa bermain-main di sana bersama keluarga dan teman. Selain itu, anak-anak kecil bisa bermain air di taman ini, lho!

Taman Balai Kota Bandung, sumber gambar: id.pinterest.com

Nah, sahabat Travelearns, bukan hanya bermain atau berolahraga, di kawasan Balai Kota kamu juga bisa traveling sambil belajar sejarah. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa dahulu pada abad 19 hingga pertengahan abad 20, Freemason banyak melakukan kegiatan masonik di kawasan ini.

Jejak Freemasonry Loge Sint Jan di Kawasan Balai Kota Bandung Sekarang

Bandung dikenal sebagai salah satu pusat Gerakan Freemasonry (Vrijmetselarij-Tarekat Mason Bebas) di Hindia Belanda. Pegiat sejarah Komunitas Aleut, M. Ryzki Wiryawan, menerangkan keberadaan Loge Sint Jan di kawasan ini. Loge ini didirikan pada tahun 1896 dan merupakan loge ke-13 Freemasonry di Hindia Belanda. Loge atau Loji merupakan pusat upacara ritual dan pekerjaan masonik.  Setidaknya ada 3 lokasi di kawasan Balai Kota Bandung yang dijadikan tempat aktivitas loge ini. Tiga lokasi itu adalah:

1. Masjid Al-Ukhuwah

Sebelum tahun 1970 dibangun masjid, terdapat bangunan Loge Sint Jan milik anggota freemasonry Bandung di lokasi tersebut, Nah, makanya Jalan Wastukencana di depan masjid itu dulu bernama Logeweg (Jalan Loge). Kala itu, Loge Sint Jan sering disebut sebagai Gedung atau Rumah Setan karena di dalamnya dilakukan berbagai upacara ritual asing dan aneh.


Masjid Al-Ukhuwah, sumber gambar: idntimes.com

2. Kantor Polrestabes Bandung
Lokasinya terletak di seberang taman Vanda, tepatnya di Jalan Merdeka No. 18-21, Bandung. Bangunan ini bergaya empire--disebut juga bergaya kolonial— merujuk pada pilar di bagian muka rumah. Kegiatan loge Sint Jan di bangunan ini adalah membuka perpustakaan “De openbare bibliotheek van Bandoeng”. Perpustakaan ini mengoleksi lebih dari 2500 buku, lho. Tahukah kamu sahabat Travelearns? Ryzki menerangkan bahwa selama masa penahanannya di Banceuy, di loge inilah Soekarno memperoleh buku-buku yang dijadikan referensi dalam pembuatan pleidoi ‘Indonesia Menggugat’.

Gedung Polrestabes Bandung, Sumber gambar: idntimes.com

3. Museum Bandung
Lokasi bangunan yang kini merupakan museum ini dahulu berfungsi sebagai frobelschool (TK) milik Loge Sint Jan. Nah, sebelum pindah ke bangunan ini, sekolah sudah beroperasi sejak tahun 1898 dengan meminjam Paseban Pendopo Bandung.

Museum Bandung, sumber gambar: ayobandung.com

Apa sih Freemasonry (Tarekat Mason Bebas) itu?

Simbol Freemasonry, sumber gambar: ZonaBanten-PikiranRakyat.com

Sahabat Travelearns, Freemasonry dikenal sebagai secret society (perkumpulan rahasia) meski sebenarnya keberadaan perkumpulan ini sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Daripada disebut sebagai perkumpulan rahasia, mungkin lebih tepat disebut sebagai perkumpulan dengan banyak rahasia, ya?

Toto Tasmara (1999) dalam Buku Dajal dan Simbol Setan menyebutkan, Freemasonry (Tarekat Mason Bebas) adalah salah satu sayap Gerakan Zionisme Internasional yang membungkus gerakannya dalam bentuk aktivitas sosial dan kepedulian pada masa depan manusia. Freemason menjalankan agendanya dibungkus dengan aliansi Mistik Satanisme, yang secara global dipahami sebagai suatu paham pemujaan terhadap materi dan pengingakaran eksistensi Tuhan dan ajaran agama.

Stevens (2004) dalam Buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 mengutip VISUM, Ensiklopedi Keluarga Modern Elsevier Jilid VIII, Amsterdam dan Brussel (1967) menyebutkan Tarekat Mason Bebas lahir dalam bentuknya yang sekarang di Inggris pada tahun 1717 melalui penggabungan empat loge menjadi satu loge agung. Gerakan ini menjunjung asas dasar pengakuan nilai tinggi kepribadian manusia dan menolak perumusan ajaran agama. Dengan lambang-lambang dan ritus rahasia, yang dasarnya dibentuk oleh gagasan bahwa umat manusia merupakan rumah pemujaan di mana manusia menjadi batu bangunan maupun pembangun, para Mason Bebas (anggota freemasonry) melakukan pekerjaannya, sebagaimana pernyataan Akkernas (1989):

“Dalam Tarekat Mason Bebas nilai tinggi kepribadian manusia berada di latar depan. Manusia sebagai individu dalam pemikiran masonik ditempatkan secara sentral. Pekerjaan, pekerjaan rohani, dalam Tarekat Mason Bebas diarahkan pada penemuan wujud diri sendiri. Erat berhubungan dengan ini, asas-asasnya bertujuan memajukan apa yang dapat mempersatukan manusia dan melenyapkan apa yang dapat memisahkan manusia. Menurut tradisi yang sangat kuno, sebuah loge Mason Bebas merupakan pusat pemersatuan manusia yang kalau tidak akan terus terpisah. Dengan mengolah dirinya sendiri, berupaya menjadi ‘manusia yang lebih baik’, berusaha mencapai Tarekat semua manusia, Mason Bebas membangun kehidupan bersama, kehidupan masyarakat. Gambaran ideal ini dalam Tarekat Mason Bebas disebut: ‘dibangunnya rumah pemujaan umat manusia’ ”

Tarekat Mason Bebas mempunyai cita-cita Tatanan Dunia Baru (New World Order) dengan kesatuan umat manusia, para Mason Bebas berpandangan bahwa manusia berhak dan mampu membentuk norma sendiri –manusia berhak mencipta ‘agama’-nya sendiri. Singkatnya, cita-cita tersebut adalah membuat Kerajaan Manusia. Eksistensi Tuhan yang wujud secara Dzat ditolak dan agama sebagai syari’at Tuhan ditentang bahkan dilenyapkan. Hal itu karena Tuhan dan agama yang disyari’atkan Tuhan akan merintangi persatuan dalam Kerajaan Manusia.

Untuk merealisasikan cita-cita itu, Mason Bebas bekerja dalam organisasi-organisasi setempat. Organisasi-organisasi setempat adalah loge, yang secara nasional digabung menjadi Loge Agung atau Majelis Tahunan di bawah pimpinan seorang pemimpin agung dan 11 perwira agung. Beberapa tokoh internasional yang menjadi anggota Tarekat Mason Bebas ialah George Washington, Theodore Roosevelt, Harry S. Truman, dan Gerald Ford.

Masuk dan Berkembangnya Freemasonry di Indonesia

Menurut A.S. Carpentier Alting, sudah banyak Mason Bebas/Freemason di Hindia Belanda sejak sebelum tahun 1756. Sejak pembentukan Loge Agung Nederland tahun 1756, pengaruh freemasonry semakin kuat dan berkembang di Hindia Belanda. Bersumber dari catatan tahunan Loji Agung Hindia Belanda, banyak elit pribumi/bumiputera yang ternyata turut menjadi seorang Freemason. Sekitar tahun 1870-1890 merupakan kurun waktu menuju perkembangan besar Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda.

Boedi Oetomo, Sumber gambar: edugoedu.com

Stevens (2004) menerangkan bahwa pada tahun 1908 di Jawa, atas prakarsa mahasiswa-mahasiswa Jawa di Bataviase Artsenschool (Sekolah Kedokteran Batavia) didirikan perkumpulan “Boedi Oetomo”. Para mahasiswa ini terutama adalah kalangan ningrat, berasal dari keluarga bupati yang masih ada hubungan dengan keraton raja-raja di Jawa Tengah. Dari openbare (pidato umum) Dirk van Labberton berjudul “Theosofische in Verband met Boedi Oetomo” diketahui bahwa Boedi Oetomo memiliki hubungan erat dengan Freemasonry.

Meterai Masyarakat Teosofi Budapest, Hungaria, Sumber gambar: Wblog.Wiki

Faizal Arifin (2018) dalam publikasi ilmiahnya berjudul Eksistensi Gerakan Freemasonry di Karawang 1926-1942, menyebutkan Teosofi adalah bagian dari Gerakan freemasonry yang bergerak dalam bidang kebatinan. Apa sih Teosofi itu?  Media Zainul Bahri (2013) dalam publikasi ilmiahnya Gagasan Pluralisme Agama pada Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933) menyebutkan bahwa menurut Blavatsky, “theos” artinya tuhan (god, bukan God) dan “Sophia” artinya kebijaksanaan (wisdom). Akan tetapi, theos di sini merujuk pada pengertian “seorang dewa” dalam bahasa Yunani, bukan pengertian “Tuhan” seperti yang dipahami oleh orang-orang sekarang. Dengan demikian, teosofi bukanlah “Kebijaksanaan Tuhan” seperti yang diketahui banyak orang, melainkan “kebijaksanaan Ilahi” seperti yang dimiliki para dewa.

Gerakan Teosofi Indonesia atau dikenal dengan Masyarakat Teosofi Indonesia (MTI) merupakan sekelompok civil society yang pertama kali memelopori model studi agama-agama dengan pendekatan mistik dan perenial (Perenialisme: filsafat, bentuk pemikiran tentang kesatuan transenden agama-agama). Mungkin dapat dikatakan, bahwa teosofi merupakan ‘agama’ atau dasar spiritualitas bagi kaum Mason Bebas. Bagi mereka, teosofi adalah ‘agama’ yang sebenarnya dan menyebutnya sebagai ‘agama masa depan’. MTI adalah fakta sejarah yang memberi petunjuk dengan jelas bahwa pluralisme lahir dari filsafat perennial Teosofi. MTI memandang fundamentalisme agama yang disyari’atkan Tuhan tidak boleh ada dan harus dilenyapkan. Tidak ada kebenaran hanya bagi agama tertentu, tidak terkecuali Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Dalam praktik aktivitasnya, para anggota Teosofi rutin berkumpul untuk berdiskusi dan melakukan ‘pengajian’ di loge/loii. Ada loge Jakarta, Bogor, Betawi, Bandung, Cirebon, Pasuruan, Semarang, Purwokerto, Pekalongan, Wonogiri, Surabaya dan hampir semua kota besar dan kecil di Jawa memiliki loge. Tokoh-tokoh besar yang menjadi anggotanya ialah Haji Agus Salim, Radjiman Wedjodiningrat, Achmad Soebardjo, Dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Soetomo, Muhammad Yamin, Soewardi Soerjaningrat, Raden Soekemi (ayah Soekarno), Datuk St. maharadja. Ki Hadjar Dewantara, Muhammad Hatta, dan Soekarno juga memiliki hubungan erat dengan Teosofi.

Stevens (2004) menyebutkan pada umumnya sampai di abad ke-19 anggotanya dominan dari golongan pegawai tinggi, administratur perkebunan atau perwira. Kemudian para profesional dengan pendidikan tinggi banyak ikut bergabung. Menjelang pecahnya Perang Dunia ke-2, dari kelas menengah pun menjadi anggota.

Boedi Oetomo tidak menolak kerja sama dengan pihak Belanda. Bahkan yang menarik adalah hubungan mereka dengan Tarekat Mason Bebas dan hubungan antara Mason Bebas orang pribumi dengan Mason Bebas orang asing. Mereka melakukan pertemuan di dalam pusat-pusat kehidupan masonik –loge-loge.

Puncaknya, hubungan tersebut terjadi pada pertengan tahun limapuluhan, Tarekat Mason Bebas Indonesia menjadi suatu Kuasa Agung masonik, sebagai “Timur Agung Indonesia” atau “Majelis Tahunan Indonesia” diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam Indonesia yang baru. Majelis Tahunan ini menunjukan bahwa gerakan Tarekat Mason Bebas ini sangat masif dan sudah beruang lingkup nasional. Pada tahun 1961, secara organisasi, Tarekat Mason Bebas baru dilarang pemerintah. Meski begitu, tak ada jaminan ideologi dan pengikutnya musnah dengan adanya pelarangan itu.


Demikian sekilas info sejarah mengenai jejak gerakan Freemasonry di kawasan  Balai Kota Bandung. Semoga bermanfaat, ya. Selamat menjelajah sahabat Travelearns!


Sumber:

Arifin, Faizal. 2018. Eksistensi Gerakan Freemasonry di Karawang, 1926-1942. Jurnal Alwatzikhoebillah (Kajian Islam, Pendidikan Ekonomi, dan Humaniora) Vol. 4 (1) Januari-Juni 2018.

Bahri, Media Zainul. 2013. Gagasan Pluralisme Agama pada Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933). Ulumuna Jurnal Studi Keislaman Vol. 17 (2) Desember 2013.

Tasmara, Toto. 1999. Dajal dan Simbol Setan Jakarta: Gema Insani Press

Th. Stevens. 2004. Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda dan Indonesia Tahun 1764-1962. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Komunitasaleut.com

No comments:

Post a Comment

Jika Santigi Punah di Ciletuh - Palabuhanratu UNESCO Global Geopark

Siang itu, dalam perjalanan pengambilan data penelitian geologi tahun 2019 lalu, kawanku menunjukkan jarinya ke arah pohon yang tumbuh di at...