Sahabat Travelearns, pada akhir pekan biasanya kawasan Balai Kota (Balkot) Bandung ramai dikunjungi oleh masyarakat dari dalam maupun luar kota untuk berwisata. Taman Balkot terletak di Jalan Wastukencana No.2, Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung. Lokasinya tidak jauh kok dari gerbang tol Pasteur, hanya sekitar 5,8 km menuju Taman Balkot, bisa ditempuh selama 17 menit perjalanan menggunakan mobil jika jalan tidak macet. Sejak Desember 2017, Ridwan Kamil –Walikota Bandung saat itu— membuka taman secara resmi menjadi ikon Kota Bandung.
Masyarakat sering mengunjungi taman ini karena banyak pepohonan
yang membuat lingkungan asri dan cocok untuk berlibur. Kombinasi bangku taman
dengan pepohonan yang hijau dan bunga yang berwarna-warni jadi spot yang keren
untuk berfoto. Ada juga labirin yang dihiasi tanaman sehingga kamu bisa
bermain-main di sana bersama keluarga dan teman. Selain itu, anak-anak kecil bisa
bermain air di taman ini, lho!
Nah, sahabat Travelearns, bukan hanya bermain atau
berolahraga, di kawasan Balai Kota kamu juga bisa traveling sambil
belajar sejarah. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa dahulu pada abad 19
hingga pertengahan abad 20, Freemason banyak melakukan kegiatan masonik
di kawasan ini.
Jejak Freemasonry Loge Sint Jan di Kawasan Balai Kota Bandung Sekarang
Bandung dikenal sebagai salah satu pusat Gerakan Freemasonry (Vrijmetselarij-Tarekat Mason Bebas) di Hindia Belanda. Pegiat sejarah Komunitas Aleut, M. Ryzki Wiryawan, menerangkan keberadaan Loge Sint Jan di kawasan ini. Loge ini didirikan pada tahun 1896 dan merupakan loge ke-13 Freemasonry di Hindia Belanda. Loge atau Loji merupakan pusat upacara ritual dan pekerjaan masonik. Setidaknya ada 3 lokasi di kawasan Balai Kota Bandung yang dijadikan tempat aktivitas loge ini. Tiga lokasi itu adalah:
1. Masjid Al-Ukhuwah
Sahabat Travelearns, Freemasonry
dikenal sebagai secret society (perkumpulan rahasia) meski sebenarnya keberadaan
perkumpulan ini sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Daripada disebut
sebagai perkumpulan rahasia, mungkin lebih tepat disebut sebagai perkumpulan
dengan banyak rahasia, ya?
Toto Tasmara (1999) dalam Buku Dajal
dan Simbol Setan menyebutkan, Freemasonry (Tarekat Mason Bebas) adalah
salah satu sayap Gerakan Zionisme Internasional yang membungkus gerakannya
dalam bentuk aktivitas sosial dan kepedulian pada masa depan manusia. Freemason
menjalankan agendanya dibungkus dengan aliansi Mistik Satanisme, yang secara
global dipahami sebagai suatu paham pemujaan terhadap materi dan pengingakaran
eksistensi Tuhan dan ajaran agama.
Stevens (2004) dalam Buku Tarekat
Mason Bebas dan Masyarakat Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 mengutip VISUM,
Ensiklopedi Keluarga Modern Elsevier Jilid VIII, Amsterdam dan Brussel (1967)
menyebutkan Tarekat Mason Bebas lahir dalam bentuknya yang sekarang di Inggris
pada tahun 1717 melalui penggabungan empat loge menjadi satu loge agung.
Gerakan ini menjunjung asas dasar pengakuan nilai tinggi kepribadian manusia dan
menolak perumusan ajaran agama. Dengan lambang-lambang dan ritus rahasia, yang dasarnya
dibentuk oleh gagasan bahwa umat manusia merupakan rumah pemujaan di mana
manusia menjadi batu bangunan maupun pembangun, para Mason Bebas (anggota freemasonry)
melakukan pekerjaannya, sebagaimana pernyataan Akkernas (1989):
“Dalam Tarekat Mason Bebas nilai
tinggi kepribadian manusia berada di latar depan. Manusia sebagai individu
dalam pemikiran masonik ditempatkan secara sentral. Pekerjaan, pekerjaan
rohani, dalam Tarekat Mason Bebas diarahkan pada penemuan wujud diri sendiri. Erat
berhubungan dengan ini, asas-asasnya bertujuan memajukan apa yang dapat
mempersatukan manusia dan melenyapkan apa yang dapat memisahkan manusia. Menurut
tradisi yang sangat kuno, sebuah loge Mason Bebas merupakan pusat pemersatuan
manusia yang kalau tidak akan terus terpisah. Dengan mengolah dirinya sendiri,
berupaya menjadi ‘manusia yang lebih baik’, berusaha mencapai Tarekat semua
manusia, Mason Bebas membangun kehidupan bersama, kehidupan masyarakat. Gambaran
ideal ini dalam Tarekat Mason Bebas disebut: ‘dibangunnya rumah pemujaan umat
manusia’ ”
Tarekat Mason Bebas mempunyai cita-cita Tatanan Dunia Baru (New World Order) dengan kesatuan umat manusia, para Mason Bebas berpandangan
bahwa manusia berhak dan mampu membentuk norma sendiri –manusia berhak mencipta
‘agama’-nya sendiri. Singkatnya, cita-cita tersebut adalah membuat Kerajaan
Manusia. Eksistensi Tuhan yang wujud secara Dzat ditolak dan agama sebagai
syari’at Tuhan ditentang bahkan dilenyapkan. Hal itu karena Tuhan dan agama
yang disyari’atkan Tuhan akan merintangi persatuan dalam Kerajaan Manusia.
Untuk merealisasikan cita-cita itu, Mason Bebas bekerja dalam organisasi-organisasi setempat. Organisasi-organisasi setempat adalah loge, yang secara nasional digabung menjadi Loge Agung atau Majelis Tahunan di bawah pimpinan seorang pemimpin agung dan 11 perwira agung. Beberapa tokoh internasional yang menjadi anggota Tarekat Mason Bebas ialah George Washington, Theodore Roosevelt, Harry S. Truman, dan Gerald Ford.
Masuk dan Berkembangnya Freemasonry di Indonesia
Menurut A.S. Carpentier Alting, sudah banyak Mason Bebas/Freemason di Hindia Belanda sejak sebelum tahun 1756. Sejak pembentukan Loge Agung Nederland tahun 1756, pengaruh freemasonry semakin kuat dan berkembang di Hindia Belanda. Bersumber dari catatan tahunan Loji Agung Hindia Belanda, banyak elit pribumi/bumiputera yang ternyata turut menjadi seorang Freemason. Sekitar tahun 1870-1890 merupakan kurun waktu menuju perkembangan besar Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda.
Stevens (2004) menerangkan bahwa
pada tahun 1908 di Jawa, atas prakarsa mahasiswa-mahasiswa Jawa di Bataviase
Artsenschool (Sekolah Kedokteran Batavia) didirikan perkumpulan “Boedi
Oetomo”. Para mahasiswa ini terutama adalah kalangan ningrat, berasal dari
keluarga bupati yang masih ada hubungan dengan keraton raja-raja di Jawa Tengah.
Dari openbare (pidato umum) Dirk van Labberton berjudul “Theosofische
in Verband met Boedi Oetomo” diketahui bahwa Boedi Oetomo memiliki hubungan
erat dengan Freemasonry.
Faizal Arifin (2018) dalam
publikasi ilmiahnya berjudul Eksistensi Gerakan Freemasonry di Karawang
1926-1942, menyebutkan Teosofi adalah bagian dari Gerakan freemasonry yang
bergerak dalam bidang kebatinan. Apa sih Teosofi itu? Media Zainul Bahri (2013) dalam publikasi
ilmiahnya Gagasan Pluralisme Agama pada Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933)
menyebutkan bahwa menurut Blavatsky, “theos” artinya tuhan (god, bukan God)
dan “Sophia” artinya kebijaksanaan (wisdom). Akan tetapi, theos
di sini merujuk pada pengertian “seorang dewa” dalam bahasa Yunani, bukan
pengertian “Tuhan” seperti yang dipahami oleh orang-orang sekarang. Dengan
demikian, teosofi bukanlah “Kebijaksanaan Tuhan” seperti yang diketahui banyak
orang, melainkan “kebijaksanaan Ilahi” seperti yang dimiliki para dewa.
Gerakan Teosofi Indonesia atau
dikenal dengan Masyarakat Teosofi Indonesia (MTI) merupakan sekelompok civil
society yang pertama kali memelopori model studi agama-agama dengan
pendekatan mistik dan perenial (Perenialisme: filsafat, bentuk pemikiran
tentang kesatuan transenden agama-agama). Mungkin dapat dikatakan, bahwa
teosofi merupakan ‘agama’ atau dasar spiritualitas bagi kaum Mason Bebas. Bagi
mereka, teosofi adalah ‘agama’ yang sebenarnya dan menyebutnya sebagai ‘agama
masa depan’. MTI adalah fakta sejarah yang memberi petunjuk dengan jelas bahwa pluralisme
lahir dari filsafat perennial Teosofi. MTI memandang fundamentalisme agama yang
disyari’atkan Tuhan tidak boleh ada dan harus dilenyapkan. Tidak ada kebenaran hanya
bagi agama tertentu, tidak terkecuali Islam sebagai agama yang dipeluk oleh
mayoritas penduduk Indonesia.
Dalam praktik aktivitasnya, para
anggota Teosofi rutin berkumpul untuk berdiskusi dan melakukan ‘pengajian’ di
loge/loii. Ada loge Jakarta, Bogor, Betawi, Bandung, Cirebon, Pasuruan, Semarang,
Purwokerto, Pekalongan, Wonogiri, Surabaya dan hampir semua kota besar dan
kecil di Jawa memiliki loge. Tokoh-tokoh besar yang menjadi anggotanya ialah
Haji Agus Salim, Radjiman Wedjodiningrat, Achmad Soebardjo, Dr. Cipto
Mangoenkoesoemo, Soetomo, Muhammad Yamin, Soewardi Soerjaningrat, Raden Soekemi
(ayah Soekarno), Datuk St. maharadja. Ki Hadjar Dewantara, Muhammad Hatta, dan Soekarno
juga memiliki hubungan erat dengan Teosofi.
Stevens (2004) menyebutkan pada
umumnya sampai di abad ke-19 anggotanya dominan dari golongan pegawai tinggi,
administratur perkebunan atau perwira. Kemudian para profesional dengan
pendidikan tinggi banyak ikut bergabung. Menjelang pecahnya Perang Dunia ke-2,
dari kelas menengah pun menjadi anggota.
Boedi Oetomo tidak menolak kerja
sama dengan pihak Belanda. Bahkan yang menarik adalah hubungan mereka dengan
Tarekat Mason Bebas dan hubungan antara Mason Bebas orang pribumi dengan Mason
Bebas orang asing. Mereka melakukan pertemuan di dalam pusat-pusat kehidupan
masonik –loge-loge.
Puncaknya, hubungan tersebut terjadi pada pertengan tahun limapuluhan, Tarekat Mason Bebas Indonesia menjadi suatu Kuasa Agung masonik, sebagai “Timur Agung Indonesia” atau “Majelis Tahunan Indonesia” diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam Indonesia yang baru. Majelis Tahunan ini menunjukan bahwa gerakan Tarekat Mason Bebas ini sangat masif dan sudah beruang lingkup nasional. Pada tahun 1961, secara organisasi, Tarekat Mason Bebas baru dilarang pemerintah. Meski begitu, tak ada jaminan ideologi dan pengikutnya musnah dengan adanya pelarangan itu.
Demikian sekilas info sejarah mengenai jejak gerakan Freemasonry di kawasan Balai Kota Bandung. Semoga bermanfaat, ya. Selamat menjelajah sahabat Travelearns!
Sumber:
Arifin, Faizal. 2018. Eksistensi Gerakan Freemasonry di Karawang, 1926-1942. Jurnal Alwatzikhoebillah (Kajian Islam, Pendidikan Ekonomi, dan Humaniora) Vol. 4 (1) Januari-Juni 2018.
Bahri, Media Zainul. 2013. Gagasan Pluralisme Agama pada
Kaum Teosofi Indonesia (1901-1933). Ulumuna Jurnal Studi Keislaman Vol. 17
(2) Desember 2013.
Tasmara, Toto. 1999. Dajal dan Simbol Setan Jakarta:
Gema Insani Press
Th. Stevens. 2004. Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda
dan Indonesia Tahun 1764-1962. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Komunitasaleut.com
No comments:
Post a Comment