Siang itu, dalam perjalanan pengambilan data penelitian geologi tahun 2019 lalu, kawanku menunjukkan jarinya ke arah pohon yang tumbuh di atas karang pinggir Pantai Ombak Tujuh, “Itu tanaman langka, namanya cantigi”
Sumber gambar: dokumentasi pribadi
Belakangan
aku baru tahu kalau pohon yang tumbuh di atas karang yang juga diberi nama Karang
Cantigi itu, lebih tepat disebut santigi. Cantigi dan santigi sering kali dianggap sama
karena namanya mirip. Cantigi (Vaccinium varingiaefolium) memiliki
habitat di pegunungan tinggi, biasanya di ketinggian 1500 meter, sementara
santigi (Pemphis acidula) tumbuh di wilayah pesisir, di dekat pantai berbatu
dan berpasir daerah beriklim tropis.
Santigi
merupakan bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati kawasan Ciletuh –
Palabuhanratu UNESCO Global Geopark. Kawasan ini ditetapkan sebagai geopark
warisan dunia pada tanggal 17 April 2018 oleh Sidang Excecutive Board
UNESCO. Keistimewaan kawasan ini selain karena keanekaragaman hayatinya adalah
karena secara geologi, menjadi salah satu “perpustakaan alam” yang mengoleksi
batuan-batuan subduksi berumur tua yang tersingkap di Pulau Jawa.
Awang Satyana
(2021) mengatakan bahwa kawasan ini menyingkap batuan subduksi berumur Eosen.
Namun, beberapa peneliti terdahulu (Soekamto, 1975; Thayyib et al., 1977) mengatakan
bahwa Ciletuh adalah salah satu kawasan yang menyingkap batuan tertua di Pulau
Jawa (berkisar 120 – 65 juta tahun lalu). Hal ini membuka peluang bagi peneliti-peneliti
muda untuk mengonfirmasi lebih lanjut keterangan ini. Tahun 2017 dan 2019, saya
menjadi salah satu mahasiswa yang tergabung untuk melakukan penelitian geologi
di kawasan ini. Penelitian geologi di kawasan ini sangat penting dilakukan
untuk mengetahui sejarah evolusi jalur subduksi Indonesia bagian barat yang
masih menjadi misteri.
Terakhir kali saya ke sana, kondisi pohon santigi masih baik-baik saja. Namun, melalui salah satu portal berita, saya cukup terkejut bahwa kondisi pohon langka yang tumbuh cantik membentang sekitar 200 meter di pesisir pantai itu sudah banyak ditebang oleh para pemburu liar. Hal ini diketahui oleh beberapa orang pegiat lingkungan, Komunitas Discover Jampang, yang sedang melakukan susur pantai pada 16 Agustus 2020 lalu.
Pohon santigi
populer di kalangan pecinta bonsai karena karakteristik tumbuhannya yang khas, daya
tahan tumbuhan, dan pertumbuhannya yang lambat. Harganya bervariasi, bonsai
santigi yang sudah tua, besar, dan memiliki bentuk yang artistik serta langka
bisa mencapai ratusan juta rupiah. Karena hal ini, santigi sering diburu. Namun,
perburuan liar pada pohon santigi bukan hanya karena penggunaannya sebagai tanaman
bonsai, melainkan karena kepercayaan masyarakat pada kayu santigi sebagai “Rajanya
Kayu Bertuah” yang memiliki manfaat magis, seperti meningkatkan kewibawaan
pemakai dan menangkal ilmu hitam. Santigi juga dipercaya masyarakat menjadi
obat herbal yang berkhasiat sebagai pereda sakit, meski begitu masih diperlukan
riset mendalam tentang manfaat klinis tanaman ini.
Pohon santigi
berperan penting dalam konservasi karena kemampuannya menahan erosi tanah di
area pantai dan tebing. Akarnya yang kuat membantu menjaga kestabilan tanah
sehingga mencegah longsor dan abrasi. Tak dapat dibayangkan jika pohon santigi
ini mati dan punah, bebatuan yang menjadi tempat tumbuh pohon ini bisa ikut
hilang karena terbawa abrasi air laut. Kepunahan pohon santigi menjadi acaman pula
bagi bebatuan objek penelitian bernilai geologis yang sangat bermanfaat untuk
perkembangan ilmu pengetahuan generasi muda Indonesia.
Penulis:
Hafidhah Nurul Haq, alumni Fakultas
Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, mengembangkan minat literasi di
komunitas Macanyala.

