Friday, 18 February 2022

Alun-Alun Bandung: Destinasi Wisata Sejarah yang Terlupakan

Sumber gambar: Netral.News

Kota Bandung sering menjadi destinasi wisata pilihan masyarakat karena biayanya yang ramah di kantong namun menyuguhkan paket liburan yang lengkap. Selain dari wisata alam, kuliner, belanja, dan kesenian yang sangat populer, wisata berbasis sejarah juga wajib masuk ke dalam daftar liburan sahabat Travelearns, lho! Di antara destinasi wisata sejarah itu adalah Alun-Alun Bandung yang berlokasi di Jalan Asia Afrika. Area lapangnya yang ditanami rumput sintetis dapat dipakai untuk rekreasi. Kini, area ini ditutup untuk sementara selama pandemi.

Tak banyak orang mengetahui bahwa Alun-Alun Bandung yang ramai dikunjungi oleh pelancong dari dalam dan luar kota/negeri merupakan saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah yang mahapenting bagi bangsa Indonesia khususnya untuk kaum muslimin. Sebelum peristiwa ini terlupa sama sekali dari benak bangsa Indonesia, sudah saatnya sahabat Travelearns menelusuri kembali sisa-sisa jejak perjuangan Sang Guru Bangsa. Hal itu karena bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat dan belajar dari sejarahnya.

Zelfbestuur dan Kesadaran untuk Merdeka 
Lebih dari seabad lalu, Alun-Alun Bandung menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah, yaitu ketika Oemar Said Tjokroaminoto mengumandangkan pidatonya yang terkenal tentang Zelfbestuur. Dengan suara baritonnya yang terdengar oleh ribuan orang tanpa pengeras suara, Sang Raja Tanpa Mahkota “menyihir” dan membangkitkan kesadaran rakyat bumiputera untuk melepas belenggu penjajahan, melawan kaum imperialis, kolonialis dan feodalis. Zelfbestuur adalah sebuah gagasan yang digaungkan agar rakyat bumiputera dapat memerintah di tanah airnya sendiri. Aji Dedi Mulawarman dalam Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S Tjokroaminoto (2015) menuliskan bahwa Zelfbestuur disampaikan dalam Kongres Nasional Centraal Sarekat Islam ke-1 (NATICO/National Congress Sarekat Islam) di  Bandung. NATICO 1 dihadiri oleh 60.000 orang dari 80 cabang Sarekat Islam. Saat itu, total anggota SI berjumlah 800.000 orang. Dalam kongres ini dipelopori juga istilah ‘nasional’, hal tersebut menunjukkan bahwa gerak SI tidak terbatas oleh sekat-sekat suku dan kedaerahan. Berbeda dengan Boedi Oetomo, contohnya, yang menjunjung cita-cita Jawa Raya.
"....Orang semakin lama semakin merasakan, baik di Nederland maupun di Hindia, bahwa zelfbestuur sungguh diperlukan… 
Orang semakin lama semakin merasakan bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan seorang tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya...... 
Kita mencintai bangsa kita dan dengan ajaran agama kita (Islam) kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita...."
Meski mayoritas pendengar setuju dengan pidato H.O.S. Tjokroaminoto, ada beberapa tokoh yang tidak suka dan mengkritiknya, salah seorang di antaranya ialah Semaoen. 

Dari SDI ke SI 
Pada mulanya, Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh K.H. Samanhoedi di Solo dengan tujuan melindungi pedagang batik muslim pribumi dan menentang praktik monopoli pedagang Cina. Tahun 1911, SDI berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) setelah pergerakannya yang semula hanya di bidang ekonomi, masuk ke dalam ranah politik. Bergabungnya Tjokroaminoto membuat keanggotaan SI meningkat drastis. Awalnya per Juni 1912 tercatat hanya 2000 anggota dengan tangan dingin Tjokroaminoto, keanggotan tumbuh pesat menjadi 35.000 orang. Pada tahun 1919 tercatat 2,5 juta orang dari seluruh Nusantara Indonesia bergabung dalam keanggotaan SI. 

Perjalanan politik Sarekat Islam sangat penting untuk dikaji oleh sahabat Travelearns. Pada tahun 1918 SI sempat bergerak secara kooperatif dalam Volksraad (Dewan Daerah) yang dibuat oleh pemerintah Belanda namun keluar karena Volksraad sejatinya tidak pernah mendengar dan mengabulkan aspirasi perwakilan SI. Keluar dari Volksraad, SI bersikap non-kooperatif. Panduan perjuangan politik Sarekat Islam termaktub dalam buku Tafsir Program Asas dan Program Tandhim yang diterbitkan tahun 1931. Buku ini juga memuat apa sebenarnya ideologi atau cita-cita politik H.O. S. Tjokroaminoto. Dalam Kata Pendahuluan buku tersebut tertulis:
“……….. 
Pergerakan kita ‘Partai Sjarikat Islam Indonesia’ jang maksudnja dikatakan dengan singkat: akan mendjalankan Islam dengan seluas-luas dan sepenuh-penuhnja, supaja kita bisa mendapat suatu Dunia Islam jang sedjati dan bisa menurut kehidupan Muslim jang sesungguh-sungguhnja. Njatalah perlu sekali mempunyai suatu Program-Asas dan suatu Program-Tandhim jang harus mendjadi dasar dan pedoman bagi segala tjita-tjita jang kita tudju dan bagi segala perbuatan jang kita lakukan untuk mentjapai maksud itu. 
Sungguhpun Islam itu Agama ALLAH dan ialah Peraturan jang sesempurna-purnanja jang diberikan oleh ALLAH Ta’ala kepada manusia untukmenjapai keselamatan di dunia dan achirat, haruslah kita ingat bahwa manusia itulah jang membikin riwajatnja sendiri. Oleh karena itu, maka dalam pada usaha kita menudju kehidupan Muslim jang sesungguh-sungguhnja itu, haruslah kita mengetahui sifat dan keadaan-keadaan pergaulan-hidup manusia jang kita hidup di dalamnja pada sekarang ini. Dan, dengan sedjelas-djelasnja kita harus mengetahui ketjelaan-ketjelaan dan kebusukan-kebusukannja jang harus lenjap dan mesti dilenjapkan. Karena, mendjadi sebabnja tidak bisa ada kehidupan Muslim jang sesungguh-sungguhnja sebagai jang kita harapkan. Ataupun sedikitnja, mendjadi rintangan bagi usaha kita akan mentjapai kehidupan Muslim jang demikian itu 
……… 
Bogor, 26 Oktober 1931 Wassalam, PRESIDEN DEWAN PARTAI SJARIKAT ISLAM INDONESIA: HADJI O.S TJOKROAMINOTO.”
Muhammad Rasuli Jamil dalam Buku Manhaj Bernegara dalam Haji (2011) menerangkan, setelah bersikap non-kooperatif, pada tanggal 3-12 Juli 1936 di Batavia, kongres menugaskan S.M. Kartosoewirjo sebagai Vice President PSII menulis Brosur Sikap Hidjrah yang kemudian menjadi asas politik Partai. Dalam perjalananya SI mengalami berbagai dinamika, di antaranya yang penting adalah perpecahan SI menjadi SI Putih dan SI Merah. Tokoh-tokoh SI Merah seperti Semaoen, Marco, Darsono, Alimin, dan H. Misbach berpandangan pro-komunisme. Sementara H.O.S Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme (1924) berpandangan bahwa sosialisme komunisme berakar pada filsafat materialisme yang munkar kepada Allah. Perpecahan terjadi kembali ketika Agus Salim menolak sikap Hijrah dan keluar dari PSII. Menyusul Abikoesno sebagai Presiden PSII memecat S.M. Kartosoewirjo dkk. yang enggan meninggalkan sikap Hijrah partai dan menolak bergabungnya PSII ke dalam GAPI (Gabungan Politik Indonesia).

No comments:

Post a Comment

Jika Santigi Punah di Ciletuh - Palabuhanratu UNESCO Global Geopark

Siang itu, dalam perjalanan pengambilan data penelitian geologi tahun 2019 lalu, kawanku menunjukkan jarinya ke arah pohon yang tumbuh di at...